Bukan Sekadar Kerajinan Tangan: LPPM Unsil Tegaskan Tempurung Kelapa Harus Jadi Industri Kreatif Berbasis Riset
TASIKMALAYA — Kampus tidak boleh lagi berdiri kokoh sebagai "menara gading" yang berjarak dari realitas dan denyut ekonomi masyarakat bawah. Menegaskan pentingnya intervensi riset dan teknologi dalam memicu hilirisasi komoditas lokal, LPPM Universitas Siliwangi (UNSIL) bersama Koperasi Produsen Jiwa Mitra Nusantara (JMN) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Workshop Pemanfaatan Tempurung Kelapa Menjadi Aksesoris Kreatif dan Bernilai Jual di Auditorium Gd. M. Nu'man Somantri (FKIP) Unsil, Kamis (15/10/2026).
Langkah ini diambil untuk mengurai kebuntuan klasik para pengrajin dan petani yang kerap kesulitan meningkatkan nilai tambah dari limbah perkebunan. Melalui pendekatan ilmiah, sentuhan desain modern, serta inovasi manufaktur tepat guna, potensi batok kelapa yang selama ini terbengkalai didorong untuk naik kelas menjadi komoditas kriya berdaya saing global.
Kepala LPPM Universitas Siliwangi, Dr. Ir. Aradea, S.T., M.T., menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan riset akademis harus menjadi motor utama transformasi ekonomi rakyat.
"Riset dan inovasi perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai tumpukan kertas dalam jurnal ilmiah di perpustakaan. Tugas akademis kami adalah membawanya turun ke tingkat tapak, mentransformasi batok kelapa yang selama ini dianggap limbah menjadi karya kriya bernilai tinggi yang mampu menggerakkan ekonomi warga," tegas Aradea.
Ia menambahkan, potensi keterampilan para pengrajin dan UMKM lokal sebenarnya sangat besar, namun kerap terbentur oleh konsistensi kualitas dan adaptasi desain modern.
"Pengrajin kita punya pengalaman dan keahlian tangan yang luar biasa, namun mereka butuh sentuhan teknologi tepat guna dan presisi desain. Di sinilah Unsil hadir membawa pendekatan sains agar produk aksesoris Tasikmalaya tidak hanya artistik, tetapi juga durable, presisi, dan relevan dengan selera pasar ritel modern hingga internasional," ujarnya.
Lebih lanjut, Aradea menyoroti pentingnya keterlibatan multipihak agar program pemberdayaan masyarakat tidak sekadar menjadi seremonial belaka.
"Pemberdayaan yang berdampak sistemik tidak bisa dikerjakan sendirian. Sinergi antara perguruan tinggi, Koperasi JMN, dan lembaga pendana seperti BPDP adalah wujud nyata ekosistem Triple Helix yang menjadi kunci utama terciptanya kemandirian ekonomi daerah secara berkelanjutan," kata Aradea.
Di akhir penyampaiannya, ia menyatakan komitmen Unsil untuk mengawal Tasikmalaya menjadi episentrum industri kreatif berbasis komoditas lokal.
"Kami berkomitmen menjadikan Universitas Siliwangi sebagai laboratorium riset dan inkubasi terdepan dalam pengembangan kriya berbasis potensi daerah. Kita ingin memastikan, ketika orang berbicara mengenai inovasi aksesoris tempurung kelapa di tingkat nasional, perhatian mereka akan tertuju ke Tasikmalaya," pungkasnya